Soweto

5 Fakta tentang Soweto

0 Comments

Secara populasi, Afrika Selatan memiliki beberapa kota besar seperti Johannesburg (9,1 juta jiwa), Cape Town (4 juta jiwa), Durban (3,6 juta jiwa), dan Pretoria (2,4 juta jiwa). Di kota-kota besar tersebut umumnya terdapat informal settlement yang dikenal dengan istilah township.
Salah satu township yang paling besar dan terkenal di Johannesburg adalah Soweto — yang merupakan singkatan dari South West Township. Soweto tidak hanya besar karena populasinya (1,5 juta jiwa) tapi juga reputasinya. Apa saja hal-hal yang menarik mengenai Soweto?
1. Sejarah Apartheid
Township memiliki hubungan erat dengan sejarah segregasi rasial di bawah rezim apartheid yang identik dengan daerah miskin dan terbelakang. Pada awal pembentukannya, township ditujukan untuk warga Afrika Selatan non kulit putih yaitu warga kulit hitam, India, dan kulit berwarna.
Township dibangun di wilayah periferi kota sebagai tempat tinggal warga Afrika Selatan non kulit putih yang bekerja di sektor-sektor non-formal seperti ART, petugas kebersihan, penambang, koki, pelayan, tukang kebun, dll.
2. Soweto Uprising
16 Juni 1976 merupakan momen bersejarah bagi Afrika Selatan karena di hari itu sekitar 10-20 ribu pemuda kulit hitam membanjiri jalanan Soweto untuk memprotes kebijakan kewajiban penggunaan Bahasa Afrikaans, bahasa yang digunakan oleh warga kulit putih. Polisi apartheid merespon aksi itu secara represif dengan senjata api yang mengakibatkan tewasnya 176 pemuda dan ribuan lainnya terluka.
Peristiwa 16 Juni kemudian menjadi momentum penting dalam perjuangan anti apartheid dan kini diperingati sebagai National Youth Day untuk mengenang jasa para pemuda yang menjadi korban.
3. Satu Jalan, Dua Pemenang Nobel Perdamaian
Soweto merupakan pusat pergerakan anti apartheid, khususnya bagi 2 (dua) tokoh ternama Afrika Selatan yaitu Nelson Mandela dan Uskup Agung Desmond Tutu. Uniknya, di Soweto ada sebuah jalan bernama Vilakazi Street yang terkenal karena kedua tokoh tersebut di atas, yang juga merupakan pemenang penghargaan Nobel Perdamaian, tinggal di sana.
Nama jalan tersebut berasal dari seorang penyair, novelis, dan linguis dari suku Zulu bernama Dr. Benedict Wallet Vilakazi yang di tahun 1935 menjadi pengajar kulit hitam pertama di sebuah universitas untuk warga kulit putih dan di tahun 1946 menjadi orang kulit hitam Afrika Selatan pertama yang menerima gelar doktoral dalam bidang literatur dari Universitas Witwatersrand.
4. Orlando Towers
Ikon lainnya di Soweto adalah Orlando Towers yang terkenal karena keunikannya sebagai tempat bungee jump pertama di dunia yang menggunakan fasilitas bekas pembangkit listrik tenaga batu bara, tepatnya dari dua menara pendinginnya.
Dibangun pada tahun 1935 dan selesai pada 1955 (terhambat Perang Dunia II), fungsinya sebagai pembangkit listrik berakhir pada tahun 1998 dan kemudian diubah menjadi tempat bisnis dan hiburan pada tahun 2008.
Orlando Towers mudah dikenali karena ukurannya, warna warni muralnya, serta daya tariknya bagi penggemar olah raga ekstrem seperti bungee jumping, abseiling/rappelling, zip-lining, pendulum swinging, dll.
Meski begitu ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam berkegiatan, yaitu: cuaca, utamanya kondisi angin; usia, bagi yang berumur di bawah 18 tahun memerlukan persetujuan orang tua/wali; dan berat badan, bungee jump dibatasi bagi yang berbobot 35 hingga 110 kg. Untuk aktivitas kelompok, enam orang atau lebih, disarankan untuk melakukan reservasi terlebih dahulu.
5. Street Performers
Berkunjung ke Soweto kurang lengkap tanpa menyaksikan bakat-bakat alami di sepanjang jalan. Salah satunya yang dapat ditemui adalah di luar Mandela House yaitu para penari ‘pantsula’ yang merupakan seni gerak seperti breakdance.
Kelenturan tubuh, gerakan-gerakan unik, serta trik topi merupakan ciri khas penampil jalanan ini. Penasaran seperti apa aksi mereka? Berikut cuplikannya.

Related Posts